Selasa, 28 Juli 2009

Dicolek " Tikus "

Malam itu, Nury tidur duluan, aku dan Roby masih asik bermain kartu, berempat bersama Dion dan Sugeng. Nury emang tipe orang yang tidak suka kegiatan-kegiatan yang kata dia "membuang-buang waktu", kalo nurut aku sih fine-fine aja, selama kegiatan yang kita lakukan tidak membahayakan dan merusak, dan pendapatku ini seringkali diamini oleh yang lain, sesama penghuni kos di komplek Haji Durojak (aslinya sih Abdurrozak, tapi karena terlalu ribet, jadilah nama yang simpel "Durojak"), yang semuanya 10 kamar. Aku tidur bersama Nury dan Roby, kami bertiga bersama 5 teman yang lain yang kos satu komplek, bekerja di tempat yang sama.Menjelang tengah malam, permainan kartu kami bubar, soalnya besok aku dan Roby mau nonton film di Mangga 2. Ketika aku bersiap hendak tidur, kulihat Nury sudah tertidur pulas. Lampu kamar segera dimatikan oleh Roby, karena kami sudah terbiasa tidur dengan mematikan lampu. Belum lama aku tertidur pulas, tiba-tiba aku terbangun karena mendengar jeritan, kubuka mataku untuk melihat yang terjadi, dari sorot lampu di luar kamar terlihat kejadian yang menakutkan, Nury meloncat-loncat sambil berputar-putar, mengayun-ayunkankan tangan kirinya ke arah pinggangnya, sambil berteriak-teriak "Whoaaa....whoaaa....whoaaa". Melihat kejadian itu, aku hanya bisa terpaku di tempat aku berbaring, yang terpikir di benakku hanyalah bahwa Nury sedang kesurupan dan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat, aku takut kalau-kalau Nury bertindak sesuatu yang di luar nalar dan batas kewajaran. Dalam situasi seperti itu, Roby yang juga terbangun langsung menyalakan lampu kamar, dan mendiamkan Nury sambil memegang pundaknya dan berujar "Sadar Nur, sadar...!!!!!!". Sementara dari luar kamar, terdengar suara gaduh, tetangga-tetangga kos terbangun dan menghampiri pintu kamar kami, "Hei, ada apa...!!! Buka pintunya..!!!", kudengar Sugeng yang kamarnya di depan kamarku berteriak. Aku sendiri yang masih tertegun melihat Nury tak juga berhenti melompat-lompat dan berteriak, belum bisa berbuat apa-apa. Sekitar satu menit kemudian, kulihat Roby sudah bisa menenangkan Nury, dan Nury pun sudah tidak melompat-lompat dan berteriak, tapi tangan kirinya masih diayun-ayunkan ke atas dan ke bawah. Setelah melihat itu, aku langsung bisa berdiri dan buru-buru membuka pintu, untuk menenangkan orang-orang yang gaduh di luar kamar.Setelah keadaan tenang, barulah ketahuan kejadian sebenarnya, yang ternyata sangat konyol. Sewaktu Nury tidur, tanpa sengaja tangan kirinya tertekan oleh badannya sendiri, karena lama sehingga peredaran darah di tangannya tidak lancar dan menyebabkan mati rasa, pada saat itu dia menggaruk pinggangnya yang terasa gatal dengan tangan kiri, tapi ketika dia menggaruk pinggangnya, yang dia rasakan adalah ada sesuatu yang mencolek-colek pinggangnya, dan dalam keadaan tidur dia terus mencoba menyingkirkan "sesuatu" tersebut, karena "sesuatu" itu tidak hilang-hilang juga, akhirnya dia terbangun dan mencoba menyingkirkannya dengan mengibas-ngibaskan tangan kirinya ke pinggangnya, di dalam kegelapan ruangan di kamar, dan dalam keadaan masih setengah sadar, yang ada di bayangan Nury adalah bahwa "sesuatu" itu adalah tikus yang merayap ke pinggangnya, dan sepontan dia berdiri dan menyoba menyingkirkan "tikus" itu, tapi karena "tikus" itu tidak kunjung pergi juga bahkan semakin keras "mencakar" pinggangnya, dia lalu histeris dan berteriak-teriak, hingga terjadilah kegaduhan di malam itu. Orang-orang yang terbangun dan mendatangi kamar kami langsung menggerutu, begitu mengetahui ternyata kejadiannya hanyalah disebabkan masalah "mati rasa", lalu bubarlah masing-masing meneruskan tidurnya. Sebelum bubar, Dony, tetangga kos kami nyeletuk,"Wah, coba tangan yang mati rasa itu diletakkan di bawah sarung, pasti lebih enak, soalnya serasa ada tangan lain yang sedang 'bekerja'". Waduh, boleh tuh dicoba!!

Sumber : Cerpen.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar